Sabtu, 02 Februari 2013

Berpikir Kritis



Latar Belakang
Berpikir merupakan suatu proses yang berjalan secara berkesinambungan mencakup interaksi dari suatu rangkaian pikiran dan persepsi. Sedangkan berpikir kritis merupakan konsep dasar yang terdiri dari konsep berpikir yang berhubungan dengan proses belajar dan kritis itu sendiri berbagai sudut pandang selain itu juga membahas tentang komponen berpikir kritis dalam keperawatan yang di dalamnya dipelajari karakteristik, sikap dan standar berpikir kritis, analisis, pertanyaan kritis, pengambilan keputusan dan kreatifitas dalam berpikir kritis.
Defenisi
Berpikir kritis adalah proses perkembangan kompleks yang berdasarkan pada pikiran rasional dan cermat menjadi pemikir kritis.

B.  Karakteristik Berpikir Kritis
Karakteristik berpikir kritis adalah :
1.      Konseptualisasi
Konseptualisasi artinya proses intelektual membentuk suatu konsep. Sedangkan konsep adalah fenomena atau pandangan mental tentang realitas, pikiran-pikiran tentang kejadian, objek, atribut, dan sejenisnya. Dengan demikian konseptualisasi merupakan pikiran abstrak yang digeneralisasi secara otomatis menjadi simbol-simbol dan disimpan dalam otak.

2.      Rasional dan beralasan.
Artinya argumen yang diberikan selalu berdasarkan analisis dan mempunyai dasar kuat dari fakta fenomena nyata.

3.      Reflektif
Artinya bahwa seorang pemikir kritis tidak menggunakan asumsi atau persepsi dalam berpikir atau mengambil keputusan tetapi akan menyediakan waktu untuk mengumpulkan data dan menganalisisnya berdasarkan disiplin ilmu, fakta dan kejadian.

4.      Bagian dari suatu sikap.
Yaitu pemahaman dari suatu sikap yang harus diambil pemikir kritis akan selalu menguji apakah sesuatu yang dihadapi itu lebih baik atau lebih buruk dibanding yang lain.

5.      Kemandirian berpikir
Seorang pemikir kritis selalu berpikir dalam dirinya tidak pasif menerima pemikiran dan keyakinan orang lain menganalisis semua isu, memutuskan secara benar dan dapat dipercaya.

6.       Berpikir adil dan terbuka yaitu mencoba untuk berubah dari pemikiran yang salah dan kurang menguntungkan menjadi benar dan lebih baik.

7.      Pengambilan keputusan berdasarkan keyakinan.
Berpikir kritis digunakan untuk mengevaluasi suatu argumentasi dan kesimpulan, mencipta suatu pemikiran baru dan alternatif solusi tindakan yang akan diambil.


C.  Fungsi Berpikir Kritis dalam Keperawatan
Berikut ini merupakan fungsi atau manfaat berpikir kritis dalam keperawatan adalah sebagai berikut :
1.   Penggunaan proses berpikir kritis dalam aktifitas keperawatan sehari-hari.
2.   Membedakan sejumlah penggunaan dan isu-isu dalam keperawatan.
3.   Mengidentifikasi dan merumuskan masalah keperawatan.
4.   Menganalisis pengertian hubungan dari masing-masing indikasi, penyebab dan tujuan, serta tingkat hubungan.
5.   Menganalisis argumen dan isu-isu dalam kesimpulan dan tindakan yang dilakukan.
6.   Menguji asumsi-asumsi yang berkembang dalam keperawatan.


Dalam penerapan pembelajaran berpikir kritis di pendidikan keperawatan, dapat digunakan tiga model, yaitu : feeling, model, vision model, dan examine model yaitu sebagai berikut :
1.   Feeling Model
Model ini menekankan pada rasa, kesan, dan data atau fakta yang ditemukan.
Misalnya terhadap aktifitas dalam pemeriksaan tanda vital, perawat merasakan gejala, petunjuk, dan perhatian kepada pernyataan serta pikiran klien.

2.   Vision Model
Model ini digunakan untuk membangkitkan pola pikir, mengorganisasi dan menerjemahkan perasaan untuk merumuskan hipotesis, analisis, dugaan, dan ide tentang permasalahan perawatan kesehatan klien.

3. Examine Model
Model ini digunakan untuk mencari peran yang tepat untuk analisis, mencari, menguji, melihat, konfirmasi, kolaborasi, menjelaskan, dan menentukan sesuatu yang berkaitan dengan ide.

Alasan berpikir kritis
Adalah untuk menganalisis penggunaan bahasa, perumusan masalah, penjelasan dan ketegasan asumsi, kuatnya bukti-bukti, menilai kesimpulan, membedakan antara baik dan buruknya argumen serta mencari kebenaran fakta dan nilai dari hasil yang diyakini benar serta tindakan yang dilakukan.

n  Hambatan-hambatan itu antara lain:
¡  Kurang pengetahuan/informasi relevan
¡  Kurangnya daya/kesempatan membaca
¡  Prasangka
¡  Stereotif
¡  Kebohongan
¡  Rasionalisasi
¡  Pentahyulan
¡  Egosentrisme
¡  Sosiosentrisme
¡  Presur/tekanan kelompok
¡  Mayoritasisasi
¡  Lokalitas/kedaerahan
¡  Adat Istiadat/tradisiKemapanan
¡  Primordialisme
¡  Impian
Manfaat
n  Umum:
¡  Problem Solving (jika tidak kita akan hanyut dibawa masalah-masalah itu.
¡  Pemahaman mendalam atas  masalah (jika tidak batin tidak aman, pikiran kacau)
n  Khusus:
Bagi seorang mahasiswa agar kita bisa berpikir kritis/otonom/kreatif di kampus, tempat kerja, profesi dan akhirnya di lingkungan sosial masyarakat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dibawah ini .. .. . .